Thursday, May 10, 2007

Ada Amarah di Pesona


Peningkatan income dari banyaknya proyek yang berhasil dimenangkan mendorong pihak manajemen untuk meningkatkan fasilitas kantor dan kesejahteraan juragan karyawan dengan melakukan hijrah dari tempat lama ke tempat baru yang jaraknya hanya 1 blok. Rumah berlantai 2 dirombak menjadi sebuah kantor yang diimpikan para buruh menciptakan kondisi kerja dan keuangan yang lebih nyaman. Impian ini tentu berbeda dengan impian para juragan yang ingin menaikkan gengsi dengan kantor wah dan garasi yang dipenuhi mobil. Kecemburuan yang tidak pernah dapat diredam dengan acara-acara liburan ataupun bahkan makan-makan di cafe cihuy, jurang yang terbentang antara juragan dan buruh makin melebar. Masing-masing merasa paling benar, semua kepatuhan dan keakraban menjadi terasa sebuah keadaan yang dipaksakan. Para buruh mengais-ais kebahagiaan dengan mempererat kedekatan dengan kelompoknya dan dengan tulus membagikan kegilaan.

Ketika orang-orang baru di rekrut, ada kesalahan besar yang dilakukan dalam pembagian ruangan. Orang baru ditempatkan dalam satu ruangan, baik administrator project (AP), programmer, web design maupun admin computer, sedangkan programmer lama ditempatkan bersama sang manajer IT dan AP lama dikumpulkan dilantai bawah bersama para juragan. Dari sini kebersamaan indah di G9 mulai tergerus dengan kecurigaan akan kedekatan penghuni lantai bawah terutama oleh orang-orang baru. Kebencian dan kecurigaan terbesar tentu aja jatuh ke gw yang memiliki hubungan paling dekat dengan juragan. Gw selalu berprinsip
“Kalau kamu tidak mau mencari solusinya, maka jangan pernah mengeluh!”

Apa yang bisa diperoleh dari keluhan selain sakit hati, kenapa tidak berusaha memecahkannya. Seberat apapun permasalahannya, sesulit apapun usahanya dan sekecil apapun hasilnya, berusahalah! Speak Loud or Silent Forever!

Gw mencoba membuka pembicaraan standard gaji, bonus, system evaluasi kerja dan hubungan kerja yang ga’ sehat dengan juragan dan beberapa mengalami perbaikan walaupun belum memuaskan semua buruh. Tapi apa yang gw lakuin tidak pernah dinilai positif, bahkan ketika gw harus membereskan PR dari seorang AP baru yang sedang mendapat musibah dan seorang programmer yang sedang ga’ konsen. Akhirnya kekecauan ini membawa gw untuk pertama kalinya ke meja terdakwa ketidakberesan kerjaan. Namun dari situ pula ide perombakan ruangan mulai bergulir dan akhirnya terealisasi. Masing-masing mulai mencoba menggali kedekatan dan merapikan barisan atas nama tim kerja.

Selain masalah keuangan dan arogansi, para buruh mengeluhkan implementasi kerjaan yang sering berubah dari perencanaan, perubahan itu bukan hanya sekali tapi berkali-kali tanpa pernah mau tahu setiap perubahan berimbas pada “time, cost & resources”. Sementara dari juragan mengeluhkan performa buruhnya yang tidak sesuai harapan tanpa mau mengakui bahwa syarat skill yang diterapkan saat penerimaan tertinggal 3-5 langkah dibelakang dengan kebutuhan skill saat itu dan yang sangat mengherankan mereka tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun untuk memberikan pelatihan. Semua solusi dari diskusi dan ajang curhat gw dengan juragan sampai bigg boz berakhir sebatas janji manis juragan di depan big boz. Orang-orang barupun bermunculan menambal pasukan lama yang sudah meninggalkan kantor dengan segudang kebencian sementara gw… gw cape’ menjadi jembatan jurang ini dan ketika banjir melanda gw memilih terbawa arusnya.

Ketika juragan membawa obat mujarab seorang (yang katanya) mantan manajer dari sebuah perusahaan besar maka dengan segera penyakitnyapun mati..... mati rasa!!! Kehadirannya dengan segala “kehebatan” template SOP big company dan contekan PMBok semakin lengkap dengan kata-kata busuk yang selalu keluar dari mulut bau dengan barisan gigi rusak. Begitu banyak amarah, begitu banyak ketidakpuasan, begitu banyak kebahagiaan, begitu banyak kegilaan, begitu banyak warna di A11.

1 comment:

kenny said...

speak loud malah jadi terdakwa, so tinggal silent forever lah...yg sabar yah..cup..cup...cuppp(cap mangkok merah :D )