Sunday, March 22, 2009

Tim, Pembalap & Jadwal F1 2009


Perubahan regulasi F1 di tahun 2009 ini banyak diperdebatkan tim-tim F1 dan pensiunan F1, dengan alasan krisis ekonomi global FIA mencoba untuk membuat olahraga termahal ini menurunkan anggarannya (tapi di lain pihak menaikkan harga lisensi pembalap!!). Perubahan itu bisa dilihat dari simple/kurang menariknya model mobil F1 akibat adanya regulasi yang menetapkan kembali bahwa BanSlick kembali diberlakukan tuk musim F1 2009 dan larangan pengunaan sayap tambahan untuk meningkatkan Aerodinamika. Ada banyak perubahan aturan di musim balap 2009 ini termasuk tarik ulur system point untuk penentuan juara dunia, test, pengisian bahan bakar dll, lengkapnya bisa dibuka buku aturannya disini


Susunan pembalap dan tim yang ikut bertarung di musim balap 2009 tidak banyak perubahan demikian juga dengan sirkuit yang digunakan. Jika pada tahun 2008 ada 11 tim yang berlaga di 18 sirkuit, tahun ini tinggal 10 tim dengan mundurnya Honda maka tidak ada lagi Honda dan Super Aguri-Honda, kepemilikan Honda beralih kepada Ross Brawn mantan punggawa Ferrari yang secara mengejutkan Brown GP hadir dengan menggunakan mesin McLaren. 2 sirkuit tergusur pada balap jet darat 2009 ini yaitu Grand Prix Du Canada (Montreal) dan Grand Prix De France (Magny-Cours) tergeser oleh kehadiran sirkuit baru di Abu Dhabi. Abu Dhabi bukan hanya sukses menggusur Canada, sirkuit ini juga sukses menggantikan Brasil yang bertahun-tahun menjadi seri balap terakhir. Apakah Abu Dhabi juga akan menghadirkan ketegangan seperti 2 musim belakangan ini di Brasil?? Kita lihat saja 17 seri Formula 1 yang akan dimulai di Australia minggu depan.


Hingga 2008 dilihat dari catatan tercepat di 18 sirkuit tahun lalu, Michael Schumacher masih memegang rekor terbanyak membukukan lap tercepat yaitu sebanyak 6x disusul Kimi Raikonen, Felippe Massa & JPM (masih inget Juan Pablo Montoya kan?) masing-masing sebanyak 3x, Rubens Barrichelo 2x dan Lewis Hamilton 1x. Dilihat dari tim pemegang lap tercepat sudah pasti masih Ferrai lah ya pemenangnya, Ferrari berhasil mengukuhkan rekor tercepat sebanyak 12x.


Wednesday, March 18, 2009

Day by Day @ JavaJazz 2009


mohon maaf sebelumnya coz posting kali ini lumayan panjang, so kalo bosen dicicil aja yak bacanya
Foto-foto bisa dilihat disini

 

Day 1:

Nungguin jeng nusy yang mendahulukan kelaparannya gw tertinggal Balawan, hikss… padahal Balawan with his magic fingers dah ga' mau tampil lagi di JGTC jadi sepertinya musti nunggu JakJazz/JavaJazz lagi. Jam 6 lebih dikit qt masuk ke exhibition hall B, stage dimana Jason Mraz bakal menebarkan pesonanya. Penuhnya jangan ditanya, tapi untung sebagai nasabah BNI gw bisa nonton dari tempat yang enak, rizal dan hellen yang bela-belain cuti dah nangkring dideretan depan berdesek-desakan ma ABG. Hal yang mengezutkan selain ga' jauh dari tempat gw duduk ada Jaksa Agung (ato hanya mirip?), ternyata acara dibuka dengan Lagu Indonesia Raya yang dibawain oleh Mike Idol, fuihhh jadi makin tebel aja nih jiwa Nasionalisme qt.. MERDEKA!! Make It Mine lagu favorit gw dipilih Jason jadi lagu pembuka , gayanya yang santai dengan pakaian casual dan topi khas Mr.AZ, Jason menyihir penonton untuk ikut bernyanyi dan bergoyang. Peduli setan RollingStone cuma ngasih 2 bintang untuk albumnya Jason karena bagi gw dan mungkin semua yang penikmat music Jason yang riang dan tak jarang dengan petikan gitar spanyol yang mempesona, Jason hadir dengan rasa baru yang lezat dalam belantara music. Kalo dia konser lagi di Jakarta sepertinya harus warning wajib hadir. Kehadiran Dira sebagai temen duet di lagu Lucky cukup mempesona dan pastinya bikin ngiri ce'-ce' (& co' gay). Hampir semua penonton yang sebagian besar ABG hapal banget ma liriknya, gw sendiri dah guaatel pengen ikut nyanyi dan bergoyang, begitu lagu I'm Yours dinyanyiin tidak ada kata lain selain turn off my handycamp n let's sing and dance with him. 1 jam 10 menit menjadi waktu yang teramat singkat buat seorang Jason, lewat lagu Butterfly dan ucapan "Terimakasih" dia melambaikan tangan perpisahan. Makasih juga Jason…

Untuk keluar dari Hall B bukan hal yang mudah, gw n nusy memilih tetep nangkring disusul rizal, hellen ga' ketauan dimana, jaringan telfon ka'nya se-crowded JCC jadi lumayan lama qt lost contact sampe akhirnya ketemuan di tangga. Salah masuk ke Plenary hall ternyata malah dapat berkah suara indah Ledisi, cuma dapet 15 menit sih… lain waktu harus diagendain. Haus!! Yup itu dah pasti, antrian stand makanan makin mengular dengan kehadiran Pretty (xixixixxxx), harga nasgor dan spaghetti yang mencekik (40 rebu bo') memaksa para fakir miskin ini hanya membeli minuman yang berharga 10 rebu. Kalo ngliat jadwal sih ada Mike Stern di Hall B, ternyata simbah Alex Ligertwood (mantan vokalis Santana) masih menguasai stage dengan suara yang alamak jaannn dah setua itu powernya masih kenceng ajah. Ga' mau ketinggalan goyangan Matt Bianco jam 22.40 qt menuju Plenary Hall. Nusy memilih hunting foto di bawah sementara gw, hellen & rizal memilih duduk manis dilantai atas dengan cukup menggoyangkan kaki dan tangan untuk setiap hentakan music yang teramat sangat menggoda untuk bergoyang. Hanya 1 lagu yang cukup familiar ditelinga, itu juga gw lupa judulnya hehehe ya maklum lah mreka kan kondang di awal 80-an dengan genre yang ga' masuk radio di kampung gw. Jam 00.30 Matt Bianco mengakhiri pertunjukannya, gw & nusy juga memutuskan untuk pulang, cauape' dan nguantux! Beda banget sama 2 orang yang pagi harinya sengaja cuti, mereka masih semangat ngabisin pertunjukan. See you tomorrow prends!

Wednesday, March 11, 2009

Uneg-Uneg Gw tentang JavaJazz Festival 2009


Pesta bagi pecinta jazz telah usai, gelaran festival jazz selama 3 malam di Jakarta Convention Center mempertemukan gw dengan musisi jazz yang dah tersohor dan juga mengenalkan gw dengan banyak musisi jazz yang patut dimasukkan list wajib tonton ditahun depan (kalo diundang lagi :D). "It's festival for all" itulah tema JavaJazz 2009, keinginan untuk merangkul semua pecinta music jazz dari semua lapisan umur. Berbeda dengan festival JakJazz yang cendering dihadiri pecinta jazz usia 25 tahun ke atas, JavaJazz berhasil menarik bocah-bocah ABG dengan kehebohan khas anak remaja untuk menikmati jazz gaol dari musisi muda Indonesia bahkan beberapa penyanyi pop juga diselipkan pada beberapa stage. Sebelum gw nyeritain day by day musisi jazz yang gw tonton gw pengen bikin list hal-hal yang cukup mengganggu selama JavaJazz 2009. Boleh dunx gw sebagai customer ngasih kritik, kan demi meningkatnya kinerja panitia tahun-tahun berikutnya.... cieee gaya bener sih gw!
  • Penukaran tiket online: Pengumuman yang ga' jelas bahwa tiket online ternyata bisa ditukar tgl 2,3 dan 4 Maret membuat penukaran tiket pada tgl 2 Maret membludak, antrian yang bisa menghabiskan waktu 2 – 2.5 jam seharusnya ga' boleh terjadi untuk Event Organize segedhe JJF. Mungkin ada yang bilang kalo lo mau bayar murah ya inilah konsukuensi yang harus diterima! OH YEEAA?? Jaga ucapan lo Bung!! Tiket online emang lebih murah, tapi qt-lah orang-orang yang membuat panitia JJF punya modal terlebih dahulu, dengan membeli tiket sejak bulan Desember dimana itu belum ada kepastian musisi jazz yang akan hadir qt dah ngambil resiko siapapun performer-nya qt pasti nonton. So jangan gunakan alesan murah untuk sebuah pelayanan yang buruk
  • Lobby yang penuh sesak: 3 buah lobby stage sepertinya terlalu banyak, lagian ga' mungkin kan semua stage itu akan menampilkan 3 musisi sekaligus. 2 stage ka'nya dah lebih dari cukup kalo mempertimbangkan waktu sound check. Lobby yang seharusnya memudahkan qt berpindah dari satu stage ke stage lain berubah menjadi ajang antrian dan desak-desakan karena selain 3 buah lobby stage juga ada buanyaaakkkk stand seperti stand makanan, stand merchandise dan stand sponsor. Ini sebenernya lagi pameran pernak-pernik jazz atau Jazz Festival? Dengan lorong-lorong yang sempit wajar aja kalo disini jadi titik kesemrawutan antara ribuan orang yang baru keluar atau akan masuk ke plenary hall, assembly hall, cendrawasih room dan exhibition hal A dan B, orang-orang yang antri makanan, orang-orang yang antri belanja, orang-orang yang menikmati penampilan di lobby stage dan orang-orang yang bingung mo kemana.
  • Jumlah pengunjung yang sangat banyak: Tiket yang murah, banyaknya musisi jazz dari berbagai genre (bahkan banyak pula penyanyi pop yang diundang karena lagi naek daun), penyelenggaraan yang bertepatan dengan libur 3 hari menjadi factor utama membludaknya pengunjung JJF 2009. Untuk menikmati Peabo Bryson dan Matt Bianco gw harus berlari menaiki tangga demi mendapatkan tempat duduk didepan stage, gw juga harus merelakan membuang waktu 30-45 menit didepan pintu yang yang masih tertulis sound check demi melihat Tohpati, Ron King & Gary Anthony dari dekat. Kalo target pasarnya masih tetap luas ka' sekarang tidak salah kalo penyelenggaraan JJF tahun 2010 akan dipindahkan.

Thursday, March 5, 2009

Belajar Fotografi


Dalam fotografi berlaku ujaran, siapkan peralatan selengkap mungkin, tapi bersiaplah memotret dengan peralatan apa adanya.

Gw tercenung dengan kata penutup dalam rubrik "Klinik Fotografi" yang terbit di Koran Kompas hari Selasa, 24 Februari 2009 yang membahas "Kiat Menyederhanakan Pemotretan". Seorang fotografer dengan kamera nan canggih dan pengoperasian yang lumayan ribet buat ukuran gw yang gagap SLR dituntut untuk menghasilkan foto yang bukan hanya cuakep cuakep cuakep tapi juga dapat bercerita. Bersiap memotret apa adanya artinya fotografer ga' perlu banyak alesan dengan keterbatasan lensa, pencahayaan, cuaca atau bahkan waktu yang singkat sebagai penyebab hasil pemotretan yang jelek, lebih parah lagi dengan segudang alesan itu ia tidak jadi mengeluarkan kameranya. Gregetan banget kalo ngliat fotografer yang sudah dipersenjatai lengkap tapi akhirnya menyerah kalah sebelum bertempur!! Blehhhh… kasihin aja kamera lo ke gw :">

Gw termasuk orang yang guatel dalam mengabadikan moment, jeprat jepret iseng dijalanan atau disuatu tempat atau suatu benda yang gw anggap menarik akan langsung gw ambil tanpa pertimbangan kualitas hasil pemotretan. Yaa maklum aja dulu gw cuma punya kamera Fuji MDL 5 yang baru bisa dilihat hasilnya setelah dicetak, trus kamera dari HP Nokia 6230 dan E51 yang ga' diragukan lagi kejelekannya dan baru-baru ini kamera pocket Nikon coolpix yang kualitasnya jelas kalah jauh dari SLR. Kadang gw ga' pede ketika mengeluarkan Nikon di pasar, di jalanan atau di stasiun, yang akan memunculkan cibiran "Halah sok nggaya/kurang kerjaan/gw sumpahin kamera jeleknya dicopet", sebuah opini yang akan berbeda jauh kalo gw ngeluarin SLR yang akan dipandangi dengan penuh kekaguman "wow kameranya keren/wartawan darimana/hunting yang penuh perjuangan".