Thursday, September 20, 2007

Pelarian Demi Sehelai Sajadah

artikel ini gw ambil dari antara
semoga bisa menjadi perenungan... terutama buat gw yang pagi kelewat sahur dan subuh;(

Oleh Yunianti Jannatun Naim

Duduk di atas sajadah cokelat, berbalut mukenah putih, Wiwik Sumarni (34) terpekur memikirkan nasib dua anaknya di Kuningan, Jawa Barat, ia baru saja menukar kebahagiaan Lebaran buah hatinya dengan selembar sajadah. Apakah sajadah yang baru saja ia cium layak menggantikan tawa bahagia buah hati pada saat membuka sejumlah kado Lebaran nanti?

Layak atau tidak, nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah kadung kabur dari rumah majikannya, di Johor demi bersujud kepada Tuhan, di atas sehelai sajadah.

"Bagaimana nanti anak saya merayakan Lebaran? Saya gagal, saya kabur. Pulang tanpa hasil apapun," kata Wiwik di rumah penampungan yang didirikan Dinas Sosial Pemerintah Kota Batam sebelum dipulangkan ke kampung halamannya melalui Tanjungpriok
.

Wiwik kabur dari tempat bekerja di Malaysia, karena sang majikan melarangnya shalat.

"Selama ini, shalat yang menjadi benteng saya bertahan hidup, dalam shalat saya tenang, tanpa shalat mana saya sanggup menjalani hidup," katanya.

Empat bulan, Wiwik menahan kerinduannya kepada Sang Khalik. Kecintaannya kepada sajadah ia tunda demi kebahagiaan buah hati yang memerlukan uang di negeri seberang, Indonesia. Jika ia berhenti kerja, dari mana uang sekolah buah hati yang berumur tujuh dan sebelas tahun dibayarkan. Belum lagi, bayangan sedih kedua anaknya yang tidak dapat merayakan Lebaran dengan baju baru mengganggu perempuan berkulit terang itu. Perempuan yang ditinggal pergi suami itu pun bersabar. Menahan diri, dan tetap bekerja.

Bekerja kepada seorang nonmuslim yang tidak memiliki toleransi dirasakan terlalu berat. Bukan saja dilarang shalat, Wiwik pun harus memasak babi, hewan yang haram menurut ajaran Islam.

"Mau bagaimana, karena tugas, terpaksa saya kerjakan juga," katanya.

Tidak hanya dipaksa mengolah babi, sang majikan pun memaksa dia turut mencicipi masakannya.

"Kalau makanan sisa, saya yang harus menghabisi," katanya.

Tapi, perempuan yang pernah menjalankan umroh kala bekerja di Arab Saudi itu memilih kelaparan daripada memakan makanan yang diharamkan oleh agama yang dia anut. Ia memilih berpuasa. Anehnya, meski dilarang menjalankan beberapa ibadah Islam, Wiwik diperbolehkan berpuasa.

"Mungkin karena kalau puasa, saya tidak menghabiskan makanan mereka," katanya.


Kabur

Memasuki bulan kelima, kerinduan Wiwik memuncak, hasratnya bersujud memohon ampun kepada Maha Pencipta semakin membumbung. Saat majikan lengah, ia melarikan diri.

"Apalagi mau Ramadhan, bulan penuh ibadah. Sedih rasanya kalau tidak shalat," kata Wiwik.

Sebelumnya, ia mengumpulkan seluruh baju, memastikan tidak ada yang tertinggal. Ia membuka dompet penuh harap. Harapannya sia-sia. Tidak ada satu ringgit pun tersisa. Namun, kerinduan "bermesraan" dengan Tuhan dalam shalat kian merayunya meninggalkan rumah majikan. Ia memilih kabur.

"Lebih baik saya tak punya uang dari pada tak bisa shalat," pikirnya kala itu.

Wiwik melarikan diri ke kantor polisi terdekat. Ia pun menceritakan kerinduannya akan sajadah karena dilarang shalat di rumah majikan kepada polisi wanita yang berjaga.

"Awalnya, saya takut dia marah, tapi ternyata dia malah mensupport saya kabur, katanya, untuk apa majikan galak-galak," cerita Wiwik.

Ibu polisi itu pun mengantar perempuan berambut sebahu itu ke KJRI di Johor Bahru. Menginap sekitar dua minggu di tempat saudara satu bangsa, Wiwik dipulangkan ke Jakarta melalui Batam.

"Lega rasanya, bisa shalat lagi, apalagi puasa di negeri sendiri," katanya saat menumpang bus tronton milik Dinsos Batam menuju Pelabuhan Sekupang, menaiki kapal yang akan mengantarnya ke ranah Jawa.


Ramadhan

Wiwik menjemput Ramadhan tahun ini dengan penuh keprihatinan dan kelegaan. Prihatin karena tidak mempersiapkan materi untuk Lebaran dua buah hatinya, dan lega, karena bisa bebas beribadah sesuai dengan keyakinannya.

"Tak terbayang bagaimana rasanya, mendengar azan memanggil orang untuk shalat tarawih, tapi saya tidak bisa shalat," katanya.

Air mata menggenang kala ia mengucapkannya. Di tengah deru mesin mobil tronton, tiba-tiba Wiwik memegang pundak kawan di sebelahnya.

"Saya tidak mau langsung pulang ke Kuningan. Saya mau cari kerja dulu di Jakarta, cari uang untuk keperluan Lebaran anak-anak saya," katanya seolah mendapatkan ilham.

Kerja apa saja tak apa, asalkan halal dan saya juga bisa shalat, lanjutnya penuh dengan senyum.

Mimpi buruk selama di Malaysia ia buang. Kini ia memupuk mimpi baru. Mimpi jangka pendek, membelikan sepasang baju untuk dua anaknya yang masih kecil. Senin siang, Wiwik pulang ke Pulau Jawa, menjemput sajadah yang telah lama ia tinggalkan.

"Ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buaian sampai ke tepi kuburan hamba,"

sepenggal lagu Bimbo mengiringi kepulangan Wiwik ke Jakarta.(*)

5 comments:

-Fitri Mohan- said...

ya allah ya robbiii....semoga majikan ini dapet ganjaran setimpal.

kenny said...

sbtlnya byk kejadian pembantu yg majikannya cina mereka gak boleh sholat, masak babi, bahkan makan babi, dan itu bukan rahasia lagi.
Entah kurangnya informasi ato sengaja dirahasiakan hingga byk para pembantu yg kerja disini merasa tertipu.
Kalopun ada majikan cina yg laen dari itu memang cuma segelintir.

nita said...

wiwik memang bekerja pada orang china, tapi karena berbau ras, maka sengaja tidak dituliskan menghindari hal yang tidak diinginkan

ndahdien said...

@fm: amiennn
@kenny: hayo to mba' yu di ewangi sodara2 qt yg ada disitu, koq yo kejam kali mereka itu:[
@nita: kejadian ini juga trjadi di sebuah peternakan di lembang, jabar. yg punya org jg china, tp org indo lbh spoke up... knapa ya pemrth malay tu acuh bgt??

Ely Meyer said...

ck...ck..ck...baru tahu aku kalau ada cerita seperti ini, biasanya yg kudengar pembantu disiksa, diperkosa, tapi yang ini sungguh keterlaluan!! salut pada keputusan mbak Wiwik !