Friday, January 9, 2009

The Da Peci Code, Rosid dan Delia by Ben Sohib


Buku ke-2 Ben Sohib telah keluar, cover bergambar sepasang pengantin membuat gw menebak-nebak... apakah Rosid dan Delia akhirnya bisa menyatukan perbedaan prinsipal?? Ada baiknya baca buku pertama Ben Sohib yang "ternyata best seller" berjudul "The Da Peci Code" untuk memahami asal muasal konflik ayah dan anak yang ga' kunjung selesai.

THE DA PECI CODE
KOCAK!! Itu pasti yang langsung tertangkap dari cover yang meniru pose Mona Lisa dan tentu saja buku The Da Vinci Code. Splash "kemungkinan best seller" dan teks "tidak memukau nalar tidak mengguncang iman!" dan "misteri tak berbahaya di balik tradisi berpeci" makin meyakinkan bahwa genre buku ini adalah komedi. AIhhh serem amat sih ngutik-ngutik masalah penutup kepala pria yang keramat kemudian merembet ke cinta beda agama??

Ben Sohib mengemas semua permasalah dengan bahasa yang kocak, sedikit nakal dengan percakapan yang full becandaan khas betawi. Bagi Abahnya Rosid (Mansur) peci adalah soal tradisi islami Bani Gibran sedangkan bagi Rosid seorang aktivis di Sanggar Banjir Kiriman di Condet peci hanyalah sebuah tradisi, dan nilai-nilai islami tidak bisa begitu saja disimpulkan dari sejulur akar budaya. Apa lagi peci juga dikenal di kalangan Nasrani dan Yahudi. Konflik Bapak dan Anak bukan hanya soal peci semata, tapi juga pilihan kuliah Rosid yang keukeuh pengen di IKJ, juga pilihan cinta Rosid pada Delia seorang ce'cantik beragama Kristen yang demen ma sastra juga ngerokok. Bukan hanya permasalahan peci dan cinta yang dibahas dibuku The Da Peci Code, permasalahan juga mengupas pemilihan aliran, modern/fundamentalis/liberal? Nama kelompoknya juga lucu namun sangat menggambarkan kondisi saat ini: RADIKAL (Remaja Didikan Allah), FORMALIN (Forum Masyarakat Anti-Aliran Lain), dan MODERAT (Majelis Doa Demi Perdamaian Umat).
Permasalah diselesaikan dengan kocak pula, namun ending-nya dibuat nggantung soal kelanjutan cinta Rosid dan Delia. Agak susah memang membuat sebuah masalah berat disajikan dalam komedi, tentu beda banget ma cerita kocak yang mengangkat kebodohan diri sendiri atau pengalam unik. Atas kesusahan tersebut gw ngasih 4 bintang buat The Da Peci Code.

So.. gimana kelanjutan kisah cinta mereka?? Inilah yang coba dibahas mendalam di buku ke-2nya Ben Sohib



ROSID DAN DELIA
Hubungan Rosid dan Delia yang terendus Mansur mengobarkan kegelisahan Mansur, sebagian besar isi novel ini bercerita tentang mansur tentang kegelisahannya (masih tetap) dengan rambut kribo Rosid dan rencana besarnya untuk menggagalkan hubungan Rosid dan Delia. Dimulailah usahanya dengan meminta bantuan adik perempuan yang serba bisa, Rodiyah. Rodiyah memulainya dengan membujuk Rosid keluar dari pekerjaan menjaga toko ayahnya dan mengajaknya menjadi "broker" tanah, ajakan yang langsung disambut Rosid dengan penuh antusias namun disambut Mansur dengan murka. Mansur juga harus menemui "dukun" untuk memperoleh ramuan yang dapat memisahkan Rosid dan Delia. Ramuan berupa minyak bernama "Bui Jubal Jabul" setelah dimantrai-mantrai minyak itu akan dioleskan di bagian tubuh Rosid, sebuah usaha melelahkan bagi Mansur karena harus keluar masuk toko minyak wangi yang akhirnya membuahkan hasil namun dengan rupiah yang ga' sedikit. Rodiyahpun dengan sangat sigap membuat pertemuan dengan perempuan cantik dambaan umi-nya Rosid bernama Nabila yang ternyata cukup membuat Rosid dag dig dug juga.

Hubungan Rosid dan Delia semakin erat, Delia bahkan telah membawa Rosid bertemu orangtuanya yang menerimanya dengan penilaian negatif atas penampilan, pendidikan dan pekerjaannya. Dua insan ini tak peduli pada apapun yang mencoba menghalangi hubungan mereka, bahkan Delia meminta Rosid menikahinya. Delia juga dikenalkan ke orang tua Rosid dengan penolakan yang sama dari orang tua Rosid terutama Mansur yang tidak akan pernah merestui Rosid menikahi ce' KRESTEN.

Usaha Rodiyah dan Mansur mulai terendus Rosid, tapi dia membiarkan permainan tetap berjalan sambil melihat siapa saja yang bermain. Rosid seketika meradang ketika menyadari dirinya dijebak ameh-nya, Rodiyah yang mempertemukan Rosid, Delia dan Nabila dirumah Rodiyah. Delia menyambar saja api yang disemburkan mulut naga Rodiyah dan konflikpun tercipta, Delia mencampakkan Rosid, Rosid meneriakkan kabar putusnya mereka kepada orangtuanya dan Mansurpun sangat berterimakasih pada sang dukun.
Namun konflik tidak berlangusung lama, karena satu per satu benang kusut terurai. Banjir besar yang melanda Jakarta membawa berkah tersendiri untuk hubungan mereka. 

Namun lagi-lagi ending cerita ini kembali menggantung, benarkan Delia bersedia pindah agama seperti yang dikatakannya pada Rosid?? Hm... sepertinya bakal ada buku ke-3 nih..
Mungkin gw masih terbuai dengan gaya cerita kocak nan renyah dari The Da Peci Code jadi lumayan kecewa dengan buku ke-2nya Ben Sohib. Cerita menjadi teramat dangkal karena masalah yang diangkat terlalu sempit hanya terfokus pada Rosid-Delia-Mansur sementara masih banyak kisah yang bisa diangkat seperti di buku pertamanya. Mungkin akan lebih menyegarkan jika kerisauan suami Rodiyah terangkat; realita Kyai yang sok seleb juga diangkat lebih banyak atau permasalahan dikeluarga Delia menghadapi anak perempuannya. Kenapa hanya terjebak pada 2 hal yaitu rambut kribo-nya (yang disaat ini dah jadi hal yang dianggap "trendy") dan cinta beda agama sehingga hal yang lain diabaikan. Emang sih masih banyak dijumpai percakapan kocak dan menggelitik tapi ga' setajam The Da Peci Code, gw membutuhkan energy lebih untuk menyemangati diri sendiri menghabiskan Rosid dan Delia. Apakah akan menjadi Best Seller lagi???
One Last Word...
Lah... Jebule pecine ketinggalan hehehe bukan denk!! itu mah cuplikan dialog dalam bukunya
Cuma mo bilang...
Jangan percaya review gw, beli aja bukunya buat mematahkan pendapat gw hehehe...

3 comments:

Sipa said...

Oh itu, sempet liat sih di gramed. Tapi belom baca

-Fitri Mohan- said...

happy new year darling. aku belum baca bukunya tapi liat postingan ini serasa udah lengkap banget :-)

ndahdien said...

@ sipa: numpang baca digramed aja:D
@ fm: hehehe.. reviewnya kebanyakan ya mba'?? ga' perlu beli bukunya deh klo gitu