Wednesday, May 26, 2010

It was Always You (01)

"Heloo Nona cantik!! Kamu nda’ takut sendirian di atas, kerja dibawah aja nemenin aku"
Suara medok mba’ ayu terdengar merdu di ujung telefon. Hari Jum’at ini beberapa temen kantor memang terpaksa lembur karena akan ada audit, tidak banyak memang hanya 5 orang saja. 3 orang finance, 1 orang project officer dan aku sendiri yang membuat jadwal lembur untuk tumpukan report proyek yang sebenarnya tidak terlalu urgent.
"Aku diatas aja mba’, file-fileku ada disini semua, repot ah naik turun"
"Kamu mau pulang jam berapa?"
"Ada kabar ga’ mba’ dari PLN kapan lampunya nyala?"
"Katanya sih 2 jam lagi, tapi nda’ tahu deh bener apa nda’. Pulang jam 5 aja yuxx"
"Ish, apan-apain sih ini PLN gak tau ada yang dikejar deadline"
"Jodoh tu yang dikejar jangan deadline mulu"
Tawa renyah mba' Ayu mau tidak mau membuatku ikut tertawa.... getir
"Kamu mo pesen makan malam nda’?"
"Ga’ usah mba’, aku makan dirumah aja"
"Okay deh say…"

Aku meletakkan gagang telfon mengakhiri pembicaran dengan mba’ ayu seorang wanita yang memang benar-benar ayu dengan logat Jawa yang sangat kental walaupun sudah tinggal di Jakarta jauh sebelum aku menginjakkan kaki dikantor ini. Kembali aku menghadapi laptop tanpa memperhatikan tampilan grafik yang sudah beberapa hari ini ku olah, buntu!!

Belum satupun analisa yang bisa dihasilkan sejak siang tadi. Betapa mudah biasanya pekerjaan penyusunan report ini aku kerjakan, 3 hari ini aku bekerja efektif sehingga ribuan data memasuki table-tabel yang sudah kupersiapkan dengan waktu yang sangat singkat. Hampir semua orang dikantor ini menikmati libur panjang mulai hari Jum’at ini, tapi aku memilih menyelesaikan laporan proyek bersama beberapa orang finance. Bukan hanya dikantor, aku membawanya pulang hingga mataku merasa lelah dan otakku menjerit hingga satu persatu grafik itupun muncul. Ternyata pekerjaan teknis memang jauh lebih memudahkan sebagai pelarian daripada pekerjaan yang membutuhkan pemikiran. Aku menatap kalender duduk didepanku, seharusnya hari minggu besok aku bisa menyelesaikan report ini. Bukan.. bukan karena deadline, hanya masih belum sanggup melewati tanggal 8 yang jatuh hari Sabtu besok tanpa ada apapun yang aku kerjakan. Nyeri kembali melanda otak kananku, ternyata setelah 3 tahunpun aku masih belum mampu menghapuskan syndrome 8 Maret ini.

"Kamu kenapa Tik? Sebuah suara lembut menyapa diujung pintu
Suara lembut itu bukan milik mba’ ayu, tapi milik salah satu bos dikantorku. Kucoba mengusir nyeri otak yang menyatukan kedua ujung alisku dengan menarik ujung bibirku membentuk sebuah senyuman.
"Ga’ apa-apa Pak, lagi cari inspirasi aja untuk mengatai-mengatai beliau” 
jawabku sambil mengarahkan kedua telunjukku pada grafik-grafik dihadapanku.
"Ada yang bisa saya bantu” 
ahh selalu saja begitu, sepertinya jumlah tangannya melebihi kaki gurita yang siap membantu siapapun dikantor ini bahkan mungkin semua orang yang mengelilingi hidupnya.
"Terimakasih, nanti saya pasti menghubungi Bapak kalo ada yang saya butuhkan” 
yang aku butuhkan saat ini adalah kehadiran setan yang sudah menyiksaku bukan malaikat sepertimu
"Ok, kapanpun.. bilang aja ya." 
Aku memberikan anggukan mantap meyakinkannya bahwa aku akan mengetuk pintu rumahnya jam 2 dinihari untuk minta bantuan menemukan setan itu.
"Sepertinya masih lama nyalanya, sebaiknya kamu tutup saja pekerjaanmu lagipula bekerja tanpa penerangan yang cukup akan melelahkan mata dan bikin makin pusing. Turun sekarang?
"Nanti saya nyusul aja, saya juga sudah nyerah koq pak,”

ya.. aku sudah menyerah pada syndrome ini, aku akan mengikutinya saja sampai dimana kehampaan ini akan menghisapku. Aku menutup satu per satu dokumen-dokumen yang memenuhi layar LCD hingga akhirnya hanya ada 3 pilihan Turn Off semua memory tentangnya, Restart kembali peristiwa 3 tahun yang lalu atau Cancel dan kembali menatap layar kehidupanku yang kosong. Pilihan itu ada ditanganku sendiri… berbusa-busa 3 sahabat yang sangat mengerti peristiwa itu memintaku memutar kembali duniaku yang sudah berhenti sejak 8 Maret 3 tahun yang lalu tapi aku masih tetap disini dengan semua kebodohanku, bodoh, stupid ediot lengkapnya.

"Masih ada yang terlupa?" 
Aku tersentak mendengar suara lembut yang ternyata masih berdiri diujung pintu dan kali ini tidak bisa menutupi kekagetanku. Sudah berapa kali aku dikagetkan dengan suara lembutnya hingga kadang kejutan itu membuat aliran darah dijantungku dapat kurasakan alirannya.
"Hahhh kirain ruangan saya ada penunggunya… bukannya tadi Bapak sudah turun?"
"Hehehe.. seharusnya saya pakai baju lab ya biar makin nakutin” 
Aku hanya tersenyum namun tidak berniat mengeluarkan suara dalam hatiku, siapa yang akan takut dengan hantu bersuara lembut sepertinya.
"Tika… "
"Ya.." 
aku menunggunya meneruskan ucapannya, namun sepertinya kata-kata itu masih menggantung di udara dan ia belum mampu menangkapnya.
Tiba-tiba perutku yang kosong seperti penuh hingga menyodok ulu hati
"Hmm.. kamu bereskan saja dulu laptopmu” 

Kali ini paru-paruku butuh lebih banyak oksigen dari yang seharusnya, detak jantung berpacu tak terkendali. Oh Gosh… jangan sekarang plz.. jangan biarkan malaikat diujung pintu itu mengingat sms itu. 4 hari yang lalu 2 rekan kerjaku yang mendeklarasikan sebagai sahabat baikku membalas sms Pak Yudha yang minta maaf tidak sempat membelikan oleh-oleh sepulangnya dari Malang. Padahal waktu itu aku juga cuma menyampaikan aspirasi segerombolan bandit penghuni lantai 3, menurut mereka semua permintaanku pasti akan dikabulkan. Sudah cukup lama memang mereka mencurigai setiap bantuan yang diberikan pria berusia 5 tahun diatasku ini, apapun jawabanku untuk mementahkan teori mereka tidak pernah berhasil. Hingga akhirnya Pak Yudha pulang dari Malang tanpa membawa satupun pesenanku, pesenan kami lebih tepatnya dan aku bernafas lega menerimanya, sehingga untuk sementara kecurigaan itu terpatahkan. Namun 2 hari kemudian sebuah sms yang sialnya dibaca Dina dan Romi membuatku sekarang sakit perut, asma dan jantungan.

“maaf Tik, kemarin saya ga’ sempet beliin pesenanmu. Sebagai gantinya aku akan traktir kamu makan malam. Gimana?”
Seandainya HP itu ada ditanganku tentu saja aku akan mengucapkan terimakasih dan ga’ usah repot-repot nraktir aku, tapi ditangan Dian dan Romi balasanku berbunyi
“asyiik nih mo ditraktir makan, saya sih siap kapan aja. Sering-sering ya pak… tq”

Sialnya aku belum juga punya kesempatan untuk meluruskannya karena aku begitu sibuk, sibuk dengan mengalihkan energy penyambutan perayaan hari paling bersejarah dalam hidupku yang akan jatuh beberapa hari lagi. Dan sepertinya dalam beberapa menit ke depan tugasku meluruskannya sebelum melenceng keluar jalur. Dengan sangat mengulur waktu kurapihkan meja kerjaku. Semua gadget dimeja kerjaku telah masuk dalam ransel, kali ini aku mengangkatnya dengan sangat mudah dan merasakan beratnya beban dipunggungku jauh lebih ringan dari apa yang menindih otakku. Tanpa berani menatapnya aku mengajaknya turun, ohh terimakasih Tuhan dia masih mengunci mulutnya. Semoga Engkau juga mencuci otaknya hingga kami menghabiskan anak tangga ini hingga aku bertemu 5 penghuni kantor lainnya yang juga sedang lembur.

Tapi Tuhan tidak mampu menguncinya lebih lama karena apa yang aku takutkan akhirnya keluar juga
“gimana dengan utang makan malamnya, saya lunasi sekarang?”
Hatiku menjerit-jerit memintaku mengiyakannya sementara otakku memintaku menolaknya seperti yang sudah aku persiapkan sebelumnya dan lidahku kelu memilih keduanya, melupakan jeritan hatiku yang menginginkan kehadiran sosok pria sederhana dengan hati mulia dan kepribadian memikat.
“ahh ngga’ usah repot-repot pak, saya ngga’ serius koq waktu minta oleh-oleh. Biasa lah.. selalu gatel kalo ada orang pergi ga’ minta oleh-oleh. Dan sms bapak waktu itu dibales Dina dan Romi, jadi kalo mau nraktir seharusnya qt bertiga nih pak. Tapi hati-hati aja pak kalo nraktir Romi bisa tekor nanti. Hehhe…"
Tawa yang sangat tidak lucu dan sangat dipaksakan. Sebelum kalimatku makin kacau, segera ku akhiri percakapan ini.
"Bapak ngga’ punya utang koq sama saya… makasih ya pak” 
Aku menggigit bibirku yang gemetar mengucapkan penolakan itu, sekilas menatap sorot matanya yang belum pernah aku lihat sebelumnya tanpa berani menatapnya lagi. Hingga beberapa detik berlalu dengan kesunyian.
"Ok” 
jawaban singkat yang cukup menampar keangkuhan dan kemunafikanku. Ya… itulah dirimu, tanpa banyak kata kamu beberapa kali telah membuatku terjebak dalam lingkaran sikapmu namun dengan mudahnya jaring jebakanmu terbuka dan membiarkanku kembali pergi.
"Saya ke ruang mba’ ayu dulu pak”
"Ok” 

OK pak, saya bodoh dan orang bodoh ini seharusnya menghantamkan kepalanya ke pintu ruang kerja mba’ ayu hingga pingsan dan aku akan tersadar dalam pelukanmu mengucapkan maaf atas ucapanku tadi dan kita akan menghabiskan malam dengan mengukir cerita terindah dalam kehidupan kita. Tapi aku hanya mendorong pintu itu dengan sangat pelan dan nyeri dikepala yang semakin menyengat tidak mampu melumpuhkan kesadaranku.

“Wah bidadarinya udah mau turun.. dijemput jaka tarub ya?”
"Jaka sembung kaleeee” 
Suara tawa kami memeriahkan ruangan yang sejak sejam lalu sunyi tanpa suara music karena padamnya aliran listrik.
"Mba’ aku pulang dulu ya"
"Mau kemana to jeng Tika.. hmm… jadi curiga nih, sepertinya gosip-gosip yang beredar emang bener nih"
"Psssttt… ga’ usah kenceng-kenceng, ntar wartawan ngerubutin kantor kita."

Aku berlagak khawatir berlebihan dihadapan wanita berparas ayu nan lembut ini. Sebelum bertanya lebih lanjut aku menguasai percakapan kami selanjutnya.
"Aku ada janji ma temen kuliah, mereka dah pada nunggu nih” 
Apakah mukaku cukup menipumu mb?
"Yo weiss duluan aja pulangnya, ngati-ngati ya Tik. 
Ahh syukurlah… hasil ekstrakurikuler “kelas drama” di sekolah dulu masih ada manfaatnya.
"Makasih mba’ku sing ayu, pamit njih mba’. Assalamu’alaikum"
"Wa’alaikumsalam"

No comments: