Monday, December 17, 2007

Nyentil Dikit Kisruh FFI

SELALU KISRUHH!! Yup itulah yang terjadi setiap kali penyelenggaraan Festival Film Indonesi (FFI). Mereka yang menamakan Masyarakat film Indonesia (MFI) yang notabene digawangi sineas kenamaan seperti Mira Lesmana, Riri Reza, Nia Dinata, Dian Sastro dll berhadapan dengan panitia FFI yang dikepalai Dedi Mizwar dan Lembaga Sensor Indonesia. Buat apa?? Gw selalu ga' ngerti model aksi boikot-boikot ka' gini, kenapa sih peningkatan kegairahan perfilman Indonesia tidak didukung bareng-bareng. Kalopun belum berjalan mulus mbo' yao dibuat ajang diskusi dengan pikiran jernih dan terbuka terhadap pendapat orang/pihak yang berseberangan. Apakah sudah sebegitu hebatkah karya-karya orang yang tergabung dalam MFI atau apakah sudah sebegitu sempurnakah penilaian dalam FFI atu udah sebegitu parahkah sensor yang dilakukan LSI?? Entahlah... karena gw sendiri menilai masih sangat sedikit film indonesia yang "berkualitas".

Gw sendiri selain film Arisan belum pernah sekalipun nonton film Indonesia di bioskop. Kalo ga' pernah ngliat kenapa mulut lo bilang ga' da yang berkualitas Ndah?? Tolong ditegesin ya S-E-D-I-K-I-T, bukannya ga' ada sama sekali!! Udah banyak koq film indo yang gw tonton lewat tayanan di Tipi, gw liat cuma ada 3 genre film yang selalu jadi andalan yaitu horor-drama-komedi dan semuanya membuat gw (dengan kepelitan gw) berpikir terlalu sayang mengeluarkan 20-25 rebu untuk nonton film gituan. Kalo dari jumlah sedikit itu insan perfilman sudah merasa "jumawa" koq ya menyebalkan sekali. Masih banyak yang perlu diperbaiki bersama-sama selain meributkan potong memotong adegan kekerasan atau seksualitas oleh LSI atau lolosnya film dengan ost ga' ori oleh FFI. Kan sewaktu bikin film sudah tau aturan adegan-adegan apa yang tidak diperkenankan ya udahh diikuti aja, lihatlah Lord Of The Ring, Titanic, Memoar of Geisha, Life is Beautiful, mereka laris manis dan diganjar oscar juga bukan karena adegan seks-nya koq. Kenapa justru ga' menggali kreativitas bukan dari bumbu-bumbu ga' penting gitu? Gw liat kenapa film hollywood begitu dahsyat karena daya khayal mereka dalam mengembangkan cerita begitu luas, mereka bisa mengolah tema sederhana menjadi begitu berisi dan berkarakter.

Sebenernya Indonesia kaya akan budaya yang bisa di explore, sebagai contoh legenda Nyai Roro Kidul. Jangan dilihat dari seksualitas Nyi Roro Kidul tapi dari sisi orang yang mencari harta dengan memujanya, hasilnya..... anda pasti bisa menemukan Nyi Roro Kidul dalam bentuk film hollywood berjudul Beowolf. Anda masih ingat kisah keris kutukan yang memakan banyak korban bernama "Keris Empu Gandring", buatlah cerita perjalanan keris itu ketika seorang raja (yang gw lupa namanya) memerintahkan keris itu untuk dibuang ke gunung. Lambungkan khayalan setinggi langit dan hasilnya... gw yakin ga' kalah dengan LOTR. Kisah cinta juga ga' cuma dialami ABG yang jelas-jelas dalam kenyataan cinta masa ABG bukanlah everlasting luv story jadi ga' usah deh berlebihan mengobral wajah kinyis-kinyis minim kemampuan akting, lihatlah closer, jerry maguire, bridget jones diary atau while u're sleeping. Horor juga bukan cuma menampilkan wajah-wajah seram dengan setting gelapppp mulu, lihatlah the others.

Masih jauh memang kalo harus ngejar hollywood tapi bukan berarti hanya jalan ditempat menggarap ide itu-itu mulu. Lumayan juga sih ada penyegaran seperti Nagabona2 jadi 2, opera jawa, denias, berbagi suami, menurut temen yang dah nonton kualitasnya diatas rata-rata film indo. Jadi... daripada ribut-ribut mulu kembalilah kepada tugasnya masing-masing dan lakukan sebaik mungkin, kalo emang bener-bener idealis gw yakin jumlah penonton bukan berada didaftar teratas target pencapaian sebuah karya sinema. Selamat Bertugas!!


**melanjutkan mimpi adanya film science fiction & thriller dari indo

8 comments:

ungkapanhati said...

he..he..aku yang mantan "anak" IKJ jd inget setiap tamen2 bikin film yg modalnya dikit besar aja sineasnya selalu kisruh apalagi FFI, film holywood memang menarik buat rekreasi tapi coba banyakin nonton art film deh, jauh lebih asyik daripada holywood yg akhir ceritanya selalu gampang ditebak ;)

jaya said...

opera jawa...bagus tuh....
indonesia mesti bikin film yg kuat skenarionya dan jalan cerita, dalam karakternya, cinematography yg keren..indonesia alamnya indah kan....tapi ya...siapa yg mau nonton film gituan....susah di cerna, nonton mikir....wakakaka....pasar memang menetukan.... it's just bussines...

Totok Sugianto said...

saya gak ngikutin beritanya kalau pagelaran FFI kisruh.. padahal dana yg dihabiskan kabarnya miliaran lho..

ndahmaldiniwati said...

@ um ibra: art film yg ka' apa ya um?? hihihiii buta genre film nih
@ baginda: bisnisnya orang2 india ya:(
@ totok: kisruh oleh orang-orang yg ga' puas dgn sistem penilaian di FFI ms, tp acaranya sendiri tetep trselenggara

Ely Meyer said...

salah satu kelemahan bangsa kita saat ini, sulit bersatu , jadi bagaimana mau maju kalau sering gondok2 kan sendiri, betul nggak Dien?

Pican said...

Padahal mereka itu satu guru satu elmu. Eh malah berantem, orang lain bikin film dah pada maju, kita malah masih jalan ditempat gara gara ribut terus. cape deh.

-Fitri Mohan- said...

aku udah nggak ngikutin lagi soal FFI. film2 indo itu biarpun jelek2, tetep saja membuatku pengen tahu (dan akhirnya nonton dengan cara minta dikirimin cd-nya dari indonesia). aku cuma ingin membuktikan bener nggak sih jelek dan tidaknya itu. ya, memang iya sih. tapi, semoga saja ada perbaikan di kemudian hari.

ohya, aku penasaran sekali pengen nonton nagabonar jadi 2 itu.

ndahmaldiniwati said...

@ ely: tull mba'. semua merasa paling pinter dan menganggap yg laen bodoh n salah yaaa ga' da titik temu dehh
@ pican: emang mereka brguru kemana can?? padepokan brama kumbara ya hehehe
@ fitri: membuktikan yg udah jelas trbukti ya mba' hehehe perlu dikirimin nagabonar juga nih?? bajakannya ya;)