Wednesday, October 3, 2007

Hari Kesaktian Pancasila

Benarkah Pancasila Sakti Mandraguna??

Sejak tidak mengenyam pendidikan sepertinya ingatan akan hari-hari besar nasional kecuali 17 Agustus banyak yang terlupa, pertanda kurang nasioanlis-kah?? Ka' kemarin sewaktu melihat cover majalah Tempo yang merah membara dengan tulisan gede AIDIT gw masih perlu waktu buat mencerna "ada apa ini?" hoalahhh ternyata hari senin itu tanggal 1 Oktober yang berarti Hari Kesaktian Pancasila dan yang berarti mundur sehari lagi adalah 30 September yang beken dengan sebutan G30S/PKI.

Jaman dahulu kala, jaman dimana film G30S/PKI wajib putar di TVRI atmosphere-nya kerasa banget ada sebuah peristiwa mengerikan di hari itu (arifin C noer kern banget bikin pelem-nya), pada tgl 30 Sept itu pula di depan rumah di pasang bendera setengah tiang dan menjadi 1 tiang penuh keesokan harinya. Bagi yang tidak memasang sudah pasti kecurigaan masih turunan PKI bakal nemplok di jidat pemilik rumah yang ga' ikut masang. Walopun babe mantan prajurit tapi beliau justru ga' gitu peduli dengan pemasangan bendera, justru simbok sibuk nyari galah yang bolak-balik ilang (nglirik kakak gw yang demen banget berburu jantung pisang)

Jaman sekarang... semuanya dilewati biasa-biasa saja, bedanya kalo dulu orang takut membicarakan pentolan PKI ... sekarang buku-buku tentang mereka banyak dipasarkan. Seperti Gugun temen gw yang beberapa tahun belakangan ini begitu mengagumi Hitler beberapa orang baik sembunyi maupun terang-terangan mengagumi juga sosok Aidit. Gw sendiri ga' pernah mengagumi orang selain diri sendiri (wuakakakk narsis abiz!).

Yang justru muncul di hari besar ini adalah kenapa namanya "Kesaktian Pancasila", lah emang peranan Pancasila ngapain?? Bukannya saat itu partai-partai belum menggunakan azaz tunggal? Apa panjenengan juga setuju ma saya kalo "Kesaktian Pancasila" itu ga' sesuai dengan moment 30 Sept 1965?? Hmm.. tapi kalopun diganti namanya apa ya.. "Hari Lubang Buaya" halahh malah lebih katro

Tuesday, October 2, 2007

Perlengkapan WAJIB mudix


inilah benda-benda yang musti gw pake untuk mudik gratis nasabah BNI 2007 ketika memasuki PRJ Kemayoran, tidak ada kata tidak karena yang ga' make perlengkapan wajib ini ga' boleh masuk. Barang gratisan itu berupa (sory.. IPB nge-blok upload image di blogger juga, DAMN!!):
  1. Kaos, dengan ukuran ngadubilah syaiton gede-nya==> siap-siap meluncur ke tukang permak
  2. Topi ONYE' ==> ngingetin ke topi TK..... topi saya bundar...muka juga bundar hehehe
  3. Payung yang lagi-lagi juga ONYE'
  4. ID card & tiket untuk di tukerin (lagi)
  5. Buku Panduan, lengkap banget lho isinya
  6. Jojo??? ah dia mah cuma ikutan ngeceng ajah
Ngumpulnya jam 09.00, it's mean gw harus berangkat dari Darmaga MBogor jam 6-an n baru berangkat jam 14.00. Lah ngapain aja selama 5 jam itu??? Ada registrasi, hiburan, games & doorprize. Ya ampuuuuun.... puanas - puasa musti di jemur pula selama 5 jam. Gw ikut bus Yogya-6 dengan supervisor bernama Chaerul (ganteng ga' ya.....??) Adakah yang satu bus ma gw??? tolong yang dah berkeluarga ga' perlu tunjuk jari!!! (usaha(dot)com)

Monday, October 1, 2007

Buka Bersama Ex_Pesona

Tanggal 29 Sept 2007 kemarin, kembali bertempat di Saung Telaga Sawangan Depok Ex_Pesona kembali bikin acara buka bersama. Ga' sesukses bubar tahun 2006 yang banyak dihadiri Ex_pesona beserta juniornya, bubar kemarin cuma dihadiri 15 orang dengan 3 orang yang harus berbagi meja karena ada cara bubar juga dengan anak-anak LP3I. But it's OK yang penting bisa bertemu dengan temen-temen (lo lagi lo lagi hehehehe).

Ga' berasa ya friend... dah lebih 2 tahun (bahkan ada yang lebih) qt cabut dari pesona, walopun dulu sewaktu masih satu kantor perjalanan qt ga' terlalu mulus, ada saat-saat mengesalkan, ada yang menyedihkan, banyak juga hal-hal bodoh tapi yang gw suka begitu kepisah dan sampai akhirnya mantan pabrik qt gulung tikar .... qt justru makin deket (yang mau deket sihh).

Thx buat temen-temen yang bersedia meluangkan waktunya untuk sekedar menatap muka-muka mbosenin dalam list ini:
  1. ms wawan, heny n de' lutfi, thx dah reservasi n es buahnya yang enak
  2. baginda jaya n jibril (bapak - anak sama buletnya tapi syukurlah kulitnya engga')
  3. ipuy n ipeh (selamat ya dah lulus sidang... traktirannya mana???)
  4. yitno n rina (selamat juga buat rina yang lulus sidang juga... undangan tgl 27 dec siap di lempar kepasaran??? *** mengutuk diri sendiri yang kembali dilewatin nikah ma ponakan)
  5. pichan n neneng, chan!! $nya bagi-bagi dunx!! upps fotnya mana neh??
  6. jaja, mb' puput n nurul yang walopun cuma mampir tapi dah lumayan bikin heboh
  7. jomblowati: tiur, nusy n........ gw ayo semangat ibu2!!
  8. whoaaaaa.... ada david naiff bow, ya ampyuuuunn lo tambah tembeb aja seh!
Tiada kata nyerah buat silaturahmi, yukss hari-hari berikutnya qt makin mempererat tali silaturahim dengan saling mengunjungi gubug-gubug Ex_Pesona, jauh or dekat cuma beda di niat aja koq. Oh ya buat yang dah narsis sorry ga' bisa upload, Video-nya ada, account youtube juga ada, tapi masalahnya adalah.... youtube dah di blok ma IPB

Thursday, September 27, 2007

Hujan....

Bersama Kesukaran Ada Kemudahan
(from milis)

Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap.

"Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya.

Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.

"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?" tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menenangkan.

Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan. "Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar.

"Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus memejamkan mata.

"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai. "Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang,

"Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"


Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan.
Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu.
Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan.
Tidak disegarkan dengan wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.


Benar apa yang diucapkan induk katak:

Jangan takut melangkah,
Jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi!!
Karena hujan yang ditunggu, insya Allah, akan datang
Bersama kesukaran ada kemudahan
Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan

~ mendengarkan dengan seksama pesan induk katak....
~ semua akan berlalu, ya semua akan berlalu
~ gw akan mengingatnya tanpa sakit lagi
~ meyaqini ada keindahan yang bisa gw dapetin
~ meyaqini.... ada kemudahan didalam kesukaran

Tuesday, September 25, 2007

Tertunduk Malu

Siapapun pasti tidak merasa nyaman naik angkutan kelas ekonomi di negara IndonesaH tercintaH, kotor; reot; sarat penumpang, penjual, pencopet, peminta-minta; ugal-ugalan n suka mogok. Tapi itulah angkutan yang tersedia, seperti juga Kereta Rel Listrik (KRL) yang selalu siap mengantar gw ke tempat favorit.. depok - mangga 2! Sebenernya ada juga yang express yang tentu aja lebih bersih, adem, ga' bejubel n penjualnya cuma di stasiun tertentu ajah, tapi kalo ga' salah sehari cuma 2 kali yang mampir di stasiun depok baru. Semua kebutuhan hidup bisa ditemuin di KRL, mulai peralatan dapur, menjahit, tas, buku, aneka makanan & minuman. Sepanjang perjalanan juga banyak hiburan dari karaoke dengan suara tape yang menyiksa, band-band lokal dengan peralatan lengkap bahkan ada yang baca puisi. Bagi yang mau membagi rejekinya deretan peminta-minta dengan berbagai bentuk hilir mudik menengadahkan tangannya siap menerima kelebihan recehan qt.

Gw bukan termasuk orang yang rajin membagi recehan pada peminta-minta atopun penghibur perjalanan, karena yang ada gw ngerasa sia-sia aja ngasih, toh banyak dari mereka yang pura-pura aja (sebenernya sih karena pelit hehehee). Berkali-kali gw ngebuang uang sia-sia, pernah ada pemuda yang keliatannya alim dan dia tampil membawakan puisi religi ee... ternyata abis itu dia duduk dengan mata yang tidak lepas dari paha ce' yang lagi duduk menyilangkan kaki dengan hanya mengenakan celana pendek & tangtop, anak kecil penyapu lantai yang memanfaatkan uangnya buat beli rokok, ibu-ibu yang ternyata membawa anak tetangganya, pemuda tanggung yang mbacain do'a tapi ternyata dia ga' puasa dan dengan acuhnya minum setelah dapet uang .... ahh pokoknya banyak deh. Pembangunan masjid dan pondok pesantren juga banyak mencari dana di angkutan umum, douhh kenapa sih muslim semiskin ini padahal di kampungku qt sanggup mbangun masjid atas biaya sendiri.

Sabtu pagi dalam perjalanan ke depok dengan KRL ekonomi gw kembali menjumpai "ciri khas" kelas ekonomi, salah satunya kehadiran seorang ibu berjilbab mengedarkan amplop permintaan sumbangan untuk pembangunan masjid dan gw mengembalikannya dalam keadaan kosong tanpa minat ngliat lokasi pembangunannya. Sore harinya gw kembali bertemu dengan ibu yang sama dengan senyuman yang sama, tidak terlihat kelelahan diwajahnya padahal sudah hampir setengah hari dia mondar-mandir di kreta yang panas dan engap. Gw nyelipin uang "seribu perak" di amplopnya, ketika amplop di ambil dia memintaku menuliskan nama, "tidak usah bu" jawabku. Biasanya setelah mengucapkan terimakasih dan do'a seadanya mereka akan berlalu, tapi sang ibu tidak seperti orang-orang yang dah gw temuin. Dia mengucapkan terimakasih dengan sungguh-sungguh, menatap gw yang masih tersenyum dan kemudian mengucapkan do'a keselamatan-kesehatan-kemudahan rejeki yang panjang. Untuk pertama kalinya gw kelimpungan di do'ain orang yang tidak dikenal, gw serasa mendengar ibuku yang sedang mendo'akan gw setiap kali menutup pembicaraan dalam telfon. Gw malu... ga' sepantasnya gw dido'ain sekhusyuk itu, gw cuman ngasih seribu, satu nilai kepingan rupiah yang kalopun jatuh ga' bakal ngerasa kehilangan. Gw cuman tertunduk dan mengucapkan amin untuk do'anya.

Ah Tuhan... indah sekali Kau nyentil hambamu di awal puasa kemarin, insyaallah gw ga' pernah lupa 2,5% hak fakir miskin, tapi banyaknya kebohongan yang ditemui membuat gw n beberapa temen-temen gw berburuk sangka kepada peminta-minta sehingga merugikan orang yang benar-benar membutuhkan. Hmm.. seandainya amanat UUD "fakir miskin dan anak terlantar di pelihara negara" dijalankan pemerintah, seandainya Badan Amal Zakat Infaq dan Sadaqah bisa menyentuh mereka, mungkin tidak ada lagi peminta-minta dijalanan, mungkin tidak ada keraguan lagi menyalurkan harta yang bukan hak qt lewat lembaga-lembaga yang ada, mungkin Sutiyoso ga' repot-repot ngeluarin Undang-Undang aneh itu... mungkin gw tidak akan tertunduk malu lagi... mungkin ya mungkin saja...

Thursday, September 20, 2007

Pelarian Demi Sehelai Sajadah

artikel ini gw ambil dari antara
semoga bisa menjadi perenungan... terutama buat gw yang pagi kelewat sahur dan subuh;(

Oleh Yunianti Jannatun Naim

Duduk di atas sajadah cokelat, berbalut mukenah putih, Wiwik Sumarni (34) terpekur memikirkan nasib dua anaknya di Kuningan, Jawa Barat, ia baru saja menukar kebahagiaan Lebaran buah hatinya dengan selembar sajadah. Apakah sajadah yang baru saja ia cium layak menggantikan tawa bahagia buah hati pada saat membuka sejumlah kado Lebaran nanti?

Layak atau tidak, nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah kadung kabur dari rumah majikannya, di Johor demi bersujud kepada Tuhan, di atas sehelai sajadah.

"Bagaimana nanti anak saya merayakan Lebaran? Saya gagal, saya kabur. Pulang tanpa hasil apapun," kata Wiwik di rumah penampungan yang didirikan Dinas Sosial Pemerintah Kota Batam sebelum dipulangkan ke kampung halamannya melalui Tanjungpriok
.

Wiwik kabur dari tempat bekerja di Malaysia, karena sang majikan melarangnya shalat.

"Selama ini, shalat yang menjadi benteng saya bertahan hidup, dalam shalat saya tenang, tanpa shalat mana saya sanggup menjalani hidup," katanya.

Empat bulan, Wiwik menahan kerinduannya kepada Sang Khalik. Kecintaannya kepada sajadah ia tunda demi kebahagiaan buah hati yang memerlukan uang di negeri seberang, Indonesia. Jika ia berhenti kerja, dari mana uang sekolah buah hati yang berumur tujuh dan sebelas tahun dibayarkan. Belum lagi, bayangan sedih kedua anaknya yang tidak dapat merayakan Lebaran dengan baju baru mengganggu perempuan berkulit terang itu. Perempuan yang ditinggal pergi suami itu pun bersabar. Menahan diri, dan tetap bekerja.

Bekerja kepada seorang nonmuslim yang tidak memiliki toleransi dirasakan terlalu berat. Bukan saja dilarang shalat, Wiwik pun harus memasak babi, hewan yang haram menurut ajaran Islam.

"Mau bagaimana, karena tugas, terpaksa saya kerjakan juga," katanya.

Tidak hanya dipaksa mengolah babi, sang majikan pun memaksa dia turut mencicipi masakannya.

"Kalau makanan sisa, saya yang harus menghabisi," katanya.

Tapi, perempuan yang pernah menjalankan umroh kala bekerja di Arab Saudi itu memilih kelaparan daripada memakan makanan yang diharamkan oleh agama yang dia anut. Ia memilih berpuasa. Anehnya, meski dilarang menjalankan beberapa ibadah Islam, Wiwik diperbolehkan berpuasa.

"Mungkin karena kalau puasa, saya tidak menghabiskan makanan mereka," katanya.


Kabur

Memasuki bulan kelima, kerinduan Wiwik memuncak, hasratnya bersujud memohon ampun kepada Maha Pencipta semakin membumbung. Saat majikan lengah, ia melarikan diri.

"Apalagi mau Ramadhan, bulan penuh ibadah. Sedih rasanya kalau tidak shalat," kata Wiwik.

Sebelumnya, ia mengumpulkan seluruh baju, memastikan tidak ada yang tertinggal. Ia membuka dompet penuh harap. Harapannya sia-sia. Tidak ada satu ringgit pun tersisa. Namun, kerinduan "bermesraan" dengan Tuhan dalam shalat kian merayunya meninggalkan rumah majikan. Ia memilih kabur.

"Lebih baik saya tak punya uang dari pada tak bisa shalat," pikirnya kala itu.

Wiwik melarikan diri ke kantor polisi terdekat. Ia pun menceritakan kerinduannya akan sajadah karena dilarang shalat di rumah majikan kepada polisi wanita yang berjaga.

"Awalnya, saya takut dia marah, tapi ternyata dia malah mensupport saya kabur, katanya, untuk apa majikan galak-galak," cerita Wiwik.

Ibu polisi itu pun mengantar perempuan berambut sebahu itu ke KJRI di Johor Bahru. Menginap sekitar dua minggu di tempat saudara satu bangsa, Wiwik dipulangkan ke Jakarta melalui Batam.

"Lega rasanya, bisa shalat lagi, apalagi puasa di negeri sendiri," katanya saat menumpang bus tronton milik Dinsos Batam menuju Pelabuhan Sekupang, menaiki kapal yang akan mengantarnya ke ranah Jawa.


Ramadhan

Wiwik menjemput Ramadhan tahun ini dengan penuh keprihatinan dan kelegaan. Prihatin karena tidak mempersiapkan materi untuk Lebaran dua buah hatinya, dan lega, karena bisa bebas beribadah sesuai dengan keyakinannya.

"Tak terbayang bagaimana rasanya, mendengar azan memanggil orang untuk shalat tarawih, tapi saya tidak bisa shalat," katanya.

Air mata menggenang kala ia mengucapkannya. Di tengah deru mesin mobil tronton, tiba-tiba Wiwik memegang pundak kawan di sebelahnya.

"Saya tidak mau langsung pulang ke Kuningan. Saya mau cari kerja dulu di Jakarta, cari uang untuk keperluan Lebaran anak-anak saya," katanya seolah mendapatkan ilham.

Kerja apa saja tak apa, asalkan halal dan saya juga bisa shalat, lanjutnya penuh dengan senyum.

Mimpi buruk selama di Malaysia ia buang. Kini ia memupuk mimpi baru. Mimpi jangka pendek, membelikan sepasang baju untuk dua anaknya yang masih kecil. Senin siang, Wiwik pulang ke Pulau Jawa, menjemput sajadah yang telah lama ia tinggalkan.

"Ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buaian sampai ke tepi kuburan hamba,"

sepenggal lagu Bimbo mengiringi kepulangan Wiwik ke Jakarta.(*)

Saturday, September 15, 2007

Mudik Gratis Nasabah BNI 10 Oktober 2007

Setelah ga' dapet kursi KA seperti biasa pilihan pulang kampung kembali lagi ke armada Bus. Naik pesawat bukanlah alternatif cerdas mengingat rumah gw yang jauh dari bandara, masih perlu 2,5 jam perjalanan lagi dari Yogya, cukup sekali aja nyobain dan dibuat ribet karena harus menempuh perjalan jauh ke cengkareng (+/- 3,5 jam sebelum jadual penerbangan) penerbangan 45 menit dan 2,5 jam lagi ke rumah. Kesimpulannya.... dengan waktu yang cuma beda 2 jam dengan bus bahkan waktu yang sama dengan kereta gw musti membayar 3 kali lipat harga bus atau kereta. Alternatif terbaik tentu saja bus, tapi pemesanan tiket bus ga' segampang pemesanan tiket kereta yang sudah jauh-jauh hari diketahui tarifnya, kalaupun hari ini qt pesan tetap aja lum bisa dapet tiket pemesanan resmi, para agen juga ga' mau menerima uang tanda jadi pokoknya cuma dicatat aja pemesanannya soal tarifnya berapa masih harus nunggu @least H-10. Kenaikan tarifnya bisa mencapai 75% dari harga normal bahkan pernah karena travel sialan yang dengan alesan kena macet gw yang udah nungguin ampe kering ga' juga dijemput terpaksa malam itu juga beralih ke bus dengan membeli langsung di waktu keberangkatan... hasilnya... Rp. 225.000 melayang

Kamis kemarin gw baca pengumuman menggiurkan
"Mudik Gratis Nasabah BNI"
Berangkat tanggal 10 Oktober 2007 jam 09.00
Keberangkatan dari PRJ Kemayoran
Tujuan Lampung, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo dan Surabaya

perlu di coba nih... apalagi syaratnya gampang
  1. Telah menjadi nasabah BNI minimal 1 tahun
  2. Punya bukti kepemilikan rekening (fotocopy rekening yang sudah di verifikasi)
  3. Menyerahkan fotocopy KTP dan menunjukkan KTP asli
  4. Menyerahkan fotocopy Kartu Keluarga (KK) dan menunjukkan KK jika pengen dapet kursi lebih dari 1 kursi

Hari Jum'at pagi gw langsung meluncur ke BNI Bogor yang di jalan Juanda. Buat yang tinggal di Depok dateng aja ke BNI Margonda, selain itu bisa juga dilayanin di BNI kantor cabang Kramat, Rawamangun, Fatmawati, Daan Mogot, Bekasi dan Tengerang. Prosesnya begini:
  1. Tanyakan ke Satpam kemana harus verifikasi rekening, kalo di Bogor bertemu dengan Ibu Nita di lantai 2 (dari loby belok kiri n naik tangga, bu nita ada di meja nomor 3)
  2. Setelah di verifikasi bawa fotocopy rekening tersebut ke petugas pelayanan mudik gratis BNI. Di Bogor mereka ada di halaman BNI nongkrong dibawah tenda putih, ada 2 orang petugas yang melayani pemudik untuk jalur utara dan jalur selatan
  3. Serahkan persyaratan di atas n mereka akan mengisi form berisi pertanyaan nomor yang bisa dihubungi, qt mo turun di mana, dapet informasinya dari mana, ada berapa orang yang ikut. STD lahh... dan terakhir qt tandatangani formulir peserta. SELESAIII...
  4. Oh ya qt diingetin untuk registrasi ulang, tanggalnya antara 29 September - 4 Oktober 2007

Jadi inilah gw... calon peserta mudik gratis nasabah BNI. Iya masih calon, karena dalam hati gw ga' gitu yaqin dengan kondisi bus-nya, halah gaya bener sih udah gratisan minta yang uenakkk. Eiiitt tapi koq ada point yang aneh nih...
Peserta diharuskan sudah hadir jam 09.00 WIB, diwajibkan memakai atribut (kaos, id card dan topi)

Busyett!!! Kejam bener diseragamin segala
Tenang-tenang Ndah... ada penolong jaket-jaket kesayangan elo yang siap nemenin mudik

Oke lah BNI, tq atas fasilitasnya... mungkin seperti kata temen, gw bakal bareng ma bakul jamu tapi ke-PD-an gw bilang nasabah BNI kebanyakan mahasiswa n staf perguruan tinggi and gw pengen nyobain dulu mumpung gratizzzzz. Buat yang mo mudik bareng ma gw silahkan datengin BNI terdekat, kapan lagi ada kesempatan jumpa Ndah gratis

Disini, untuk Sebuah Janji

Generasi masa kini mungkin telah memiliki pemikiran yang terbuka dalam mendefinisikan kewajiban anak kepada orang tua. Dari banyak opini di ...