Saturday, February 13, 2021

Disini, untuk Sebuah Janji


Generasi masa kini mungkin telah memiliki pemikiran yang terbuka dalam mendefinisikan kewajiban anak kepada orang tua. Dari banyak opini di media sosial, orang tua masa kini tidak lagi memberikan tuntutan kepada anaknya untuk "merawat orang tua". Dengan kemajuan pola pikir dan dukungan teknologi, orang tua bisa menghabiskan masa tuanya tanpa kehadiran anak-anaknya. 

Tapi hal ini berbeda dengan generasi orang tua kita, lebih tepatnya orang tuaku. Mereka selalu mengharapkan ada anak yang menemani mereka di masa tua.  Ketika Bapak masih ada, Ibu tidak mengalami kesepian. Semua pekerjaan dilakukan bersama, kunjungan kontrol ke RS menjadi sebuah ajang keluar rumah bersama dan bertemu dengan kawan-kawan berobat. Mereka bahkan sangat dekat, hingga ada anak kecil yang sangat lengket dengan Bapak. Waktu itu, kami, anak-anaknya sudah memikirkan siapa yang akan menemani Bapak dan Ibu? 

Kakakku yang pertama tidak mungkin karena terikat kerja, kakak keduaku rumahnya cukup dekat sekitar 40 menit dari rumah sehingga masih bisa seminggu sekali menengok, kakak ketigaku di luar Jawa tidak memiliki pekerjaan sehingga beberapa kali bisa dimintai tolong untuk segera pulang jika keadaan mendesak, kakak keempatku kami bebaskan dari tugas karena sudah lama menunggui Bapak dan Ibu, ini saatnya untuk bersama keluarga barunya. Aku? Aku single, waktu itu hanya menanggung 1 ponakan kuliah, tidak ada pekerjaan yang sangat mengikat, bisa keluar kapan saja.

Melihat kondisi kami saat itu, sekitar 2014-2016, sebenarnya keluarga sangat mengharapkan kakak ketigaku bersedia pindah dan menetap bersama Bapak Ibu. Tapi keluarga menjadi alasan yang memberatkannya. Saat itu aku sudah menyampaikan, aku siap pindah. Tapi nanti, setelah kontrak selesai, Maret 2017. Karena saat itu aku yakin, Bapak dan Ibu diberkahi umur yang panjang.

Ketika Bapak meninggal, satu penyesalanku adalah....
Kenapa aku memutuskan kembali ke Bogor hanya untuk menyiapkan meeting?

Setelah meninggalnya Bapak, kami berkumpul dan membicarakan bagaimana kami akan menjaga Ibu. Saat itu aku menjawab dengan tegas bahwa sesuai janjiku, setelah kontrak selesai aku akan pindah. Selama masa itu, aku meminta kakakku yang lain untuk bergantian menjaga Ibu. 

Ibu tidak pernah berani tinggal sendiri, jadi kalau tidak tinggal di rumah kakakku, maka ibuku menginap di rumah saudara atau bahkan tetangga. Sebagai anak pasti rasanya sedih, melihat Ibu berpindah-pindah seperti itu. Belum lagi omongan tetangga seolah kami tidak mengurusnya. Padahal anak-anaknya sangat mau Ibu tinggal bersama mereka, tapi Ibu tidak mau meninggalkan rumah lama-lama. Makanya ketika Pak Bos (alm) dan teman-teman kerja menyaranku resign setelah lebaran aku tetap pada keputusanku, sebelum puasa aku sudah harus bersama Ibu. 

Ini bukan karena aku berhati mulia, tidak, aku tidak sebaik itu. Bukan untuk merawat beliau, karena di usia yang sudah melewati 75 tahun Ibu masih sangat aktif melakukan semua kegiatan. Hanya untuk menemani Ibu. Setelah kontrak selesai aku tidak memiliki pertimbangan lain yang lebih baik lagi selain pulang. Aku pulang tanpa rencana matang, mau kerja apa, mau ngapain. Aku juga tidak punya kekhawatiran berlebihan apakah nanti aku bisa betah, apakah aku siap melepaskan kehedonan yang sudah kujalani hampir 15 tahun? Aku cukup menepati janjiku, aku pulang.

Dan disinilah aku, di kota kelahiran yang sepi dan membosankan. Jauh dari teman-teman yang 1 frekuensi. Tidak memiliki penghasilan sebesar dulu. Menjalani kehidupan di desa, tanpa mall, tanpa XXI tanpa panggung konser kelas international, tanpa mengunjungi tempat fancy n cozzy. Disini, untuk sebuah janji.

No comments:

Disini, untuk Sebuah Janji

Generasi masa kini mungkin telah memiliki pemikiran yang terbuka dalam mendefinisikan kewajiban anak kepada orang tua. Dari banyak opini di ...