Sabtu malam tanggal 20 Agustus 2016, kereta Taksaka mengantarkanku kembali ke Jakarta. Sebenarnya aku ingin pulang minggu malam, tapi sudah tidak ada tiket lagi. Malam itu kondisi Bapak agak menurun, tapi aku memiliki keyakinan hari Rabu sesuai jadwal RS, akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh terkait kondisi paru-parunya. Aku hanya kembali ke Bogor untuk melakukan meeting hari Selasa, karena kami sedang mempersiapkan acara tingkat nasional. Aku tidak pernah menyangka, Sabtu malam itu adalah pertemuan terakhirku dengan Bapak.
Bapak masuk RS pada tanggal 12 Agustus 2016, keluhannya bukan karena Jantung tapi karena sesak dan lemas. Sudah beberapa tahun belakangan, setiap 2 minggu Bapak kontrol Jantung selain itu juga memilki keluhan yang menurut dokter spesialis penyakit dalam dikarenakan asam lambung. Aku sudah beberapa kali menyarankan pindah dokter spesialis, karena menurutku sangat aneh, asam lambung tidak kunjung sembuh tetapi tidak dilakukan endoscopy. Tapi karena faktor kemudahan dan kedekatan lokasi RS, Bapak tetap kontrol di tempat yang sama. Kakakku yang di Samarinda dan Parung pulang terlebih dahulu pada, aku diminta nanti saja untuk gantian jaga.







