Tuesday, November 2, 2010

It was Always You (03)

It was Always You (01)
It was Always You (02)

Kami membelah jalanan pinggiran jakarta yang tetap berdenyut kencang mengikuti irama libur panjang 3 hari ini. Kubiarkan saja dia memacu motornya dengan kecepatan cukup tinggi diapun membiarku bergulat dengan pikiranku sendiri. Kami hanya disatukan oleh Snow Patrol yang mengalun indah dari 1 earphone yang masuk telingaku dan 1 earphone lagi ketelinganya, Run, Finish Line, How To Be Dead, Chasing Cars dan hampir semua lagu diketiga albumnya selalu menjadi pilihan kami saat menghabiskan waktu bersama. Aku menitipkan dahiku dipunggungnya, memejamkan mata dan mencoba menilik hatiku sendiri apa yang sebenernya gw tunggu dari seorang Dimas, dia sudah pergi 3 tahun lalu atau lebih tepatnya gw udah melepasnya.

Kenyataannya.. apa yang terjadi antara aku dan Dimas bukanlah sebuah kisah cinta. Aku mengagumi tulisan-tulisannya pada sebuah blog, kami terhubung bukan karena pandangan mata atau suara yang merdu, kami hanya saling mengenal melalui tulisan. Aku sendiri tidak pernah melihat seperti apa sosok Dimas karena fotonya juga terlalu kecil untuk aku kenali, tapi aku telah jatuh cinta dengan nama Dimas itu sendiri. Tolol sekali yah memang tolol, dari sedikit nama Jawa yang aku sukai aku menemukan Dimas pada halaman sebuah blog dan makin mencintainya karena kegemarannya mengulas buku-buku yang dibacanya. Kami saling mengunjungi setiap ada tulisan baru, tapi tidak pernah lebih dari itu. Mungkin dia bisa mengenal aku lebih dalam karena tulisanku lebih pada tulisan ga’ penting keseharianku dan kegemaranku pada buku, konser music dan travelling, aku sama sekali tidak mengenalnya karena dia hanya menulis tentang resensinya terhadap buku yang ia baca. Aku tidak berani memasukkannya dalam daftar YM atau Gtalk karena masih mengagungkan gengsi. Hingga kami dipertemukan pada sebuah acara pagelaran Jazz

"Hai Tik!! "
Sesosok pria jangkung berkulit sawo matang dengan matanya yang teduh menyapu.
"Tri Sum main disini kan?"
"Iya, ada perubahan acara jadi mereka baru main 20 menit lagi"
"Ahh iya nih jadwalnya agak kacau. Ya lebih baik nunggu disini biar dapet spot yang bagus. Eh bentar ya, sepertinya itu Kuncung deh, gw kesana dulu ya"

Aku masih dipenuhi kebingungan dengan siapa aku bicara, tapi ketika dia menyebutkan nama Kuncung aku seperti tersambar petir. Kuncung alias Agung Kuncoro adalah 1 dari 8 blogger yang janjian denganku dan Tony nonton java jazz malam ini. Apa dia … oh tidak mungkin! Bukankah Dimas tinggal di Surabaya? Dan setauku dia tidak pernah menunjukkan antusiasme terhadap jazz. Aku mencoba mengingat foto kecilnya dan menemukan sedkit persamaan pada mata hidung dan rambutnya yang sedikit bergelombang. Tingginya beberapa cm diatas Tony tapi badannya lebih berisi dibanding Tony yang walaupun sudah kerja enak tapi masih aja bertampang kurang gizi.



Tony datang memamerkan hasil jepretannya, namun aku tidak tertarik, aku menceritakan sosok yang baru saja menyapaku dan menunjuk sosoknya diantara sekelompok blogger. Kami memutuskan bergabung bersama mereka namun lampu-lampu telah dimatikan dan ini berarti Dewa Bujana, Balawan dan Tohpati sudah siap beraksi. Tony dan teman-temannya sibuk mencari posisi yang bagus, sementara aku, Agung, Rizal dan mungkin namanya Dimas cukup puas dengan berada dibarisan terdepan walaupun berada disisi kiri panggung saja. Ini adalah aksi panggung yang aku tunggu tapi konsentrasiku terpecah dengan kehadiran Dimas, dia yang selama ini diam-diam aku kagumi ternyata sosoknya jauh lebih menggetarkan dari bayanganku.

Jantungku berkali-kali berhenti berdetak ketika Dimas berbisik, lebih tepat berteriak di telingaku mengimbangi suara music yang memenuhi stage Tri Sum mengatakan kekagumannya pada ketiga gitaris ini. Hingga akhirnya kami punya kesempatan duduk bersama dengan blogger lainnya yang tentu saja saling menunjukkan hasil jepretannya, mengomentari performance Tri Sum dan mengakhirinya dengan janjian makan bersama setelah acara selesai.  Aku mencintainya… ucapku dalam hati. Pertama kalinya dalam hidupku ingin kuhabiskan seluruh waktuku bersamanya. Aku jatuh cinta lagi, ya.. getaran ini hadir kembali setelah hampir 2 tahun aku tidak merasakan getar cinta yang sekuat ini. Di pinggiran senayan kami menghabiskan malam itu dengan menikmati nasi goreng yang dijajakan di sepanjang jalan. Jam 3 pagi kami memutuskan mengikuti para penggemar fotografi berburu pagi di belantara Jakarta, secara mengejutkan Dimas mendekati Tony dan berkata
“Ton, gw pinjem temen lo dulu ya” 

Sesaat Tony melihatku yang kikuk lalu ia tersenyum dan mengiyakan permintaan Dimas. Matahari sedikitpun belum muncul namun hatiku telah hangat oleh cahaya cinta yang dipancarkan Dimas. Ketika Tony menyerahkan jaketku yang masih tersimpan dimotornya ia menggodaku dengan senyumannya yang terkadang memang menyebalkan sekaligus menyenangkan
“Ini pertama kalinya sejak mengenal lo, lo bisa kehabisan kata-kata didepan cowok. Love at first sight ha?” 
Aku tidak menjawabnya namun ia bisa mengetahui jawabannya melalui senyuman yang selalu menghiasi wajahku
"You really love him, don’t you?”
"I do”
jawabku mantap
"Berjanjilah untuk tidak melepaskan kesempatan ini!"

Namun ternyata aku melepaskannya, melepaskan seorang mahasiswa yang dengan kecemerlangan otaknya baru saja mendapatkan gelar sarjananya dan bersiap terbang ke London bersama keluarganya yang ternyata seorang diplomat. Tatapanku yang awalnya menyala penuh cinta dan harap berangsur redup, semakin aku mengenal Dimas semakin aku minder dengan keberadaanku. Sepertinya baru beberapa menit yang lalu aku mengatakan pada Tony keinginanku menggelar pernikahanku di Plenary Hall kalo bisa menikahi anak pengusaha dan sekarang baru aku menyadari bahwa perbedaan kasta yang begitu jauh terlalu berat untuk dilalui.

Bayanganku tentang Dimas adalah seorang yang sederhana, orang yang seumuran atau sedikit lebih tua dariku dengan pekerjaan dan latar belakang keluarga sederhana namun nyatanya dia adalah seorang pangeran dan pangeran tak akan mungkin disandingkan dengan rakyat biasa.. ughh tiba-tiba aku menjadi seorang pecundang yang melarikan diri dari pertempuran yang aku kobarkan sendiri. Aku dipenuhi banyak keraguan dan ketidakpercayaan pada apa yang ditawarkan Dimas. Bagaimana mungkin Dimas mencintaiku? Ah, tapi bukankah aku juga mencintainya? Aku amat mencintainya tapi aku akan terluka oleh rasa kehilangan yang mendalam ketika dia meninggalkanku 2-3 tahun kedepan atau bahkan lebih lama dari itu. Di tempat baru pasti dia akan menemukan seorang wanita yang setara dan..... seusia. Aku tidak mau merasakan sakit yang teramat dalam ditinggalkan oleh orang yang sangat aku yakini menjadi pendamping hidupku, bukankah lebih baik kehilangan disaat belum memiliki disaat belum memiliki memory yang dapat dikenang bersama?

Apakah ini yang dimaksud Tony sebagai ketakutanku, ketakutan akan bayanganku sendiri. Aku melepasnya, melepas semua impian, melepas nafas cintanya yang mulai menyelimuti hatiku dengan kehangatan yang selalu merengkuhku. Tidak banyak kata yang diucapkannya pada penolakanku, tidak kutemukan kehilangan mendalam dimatanya dan akupun tersiksa karenanya. Kejutan datang dari blog-nya sebulan kemudian, untuk pertama kalinya dalam postingnya ia mencurahkan perasaannya. Artikel dengan judul “Aku (mungkin) akan kembali” benar-benar membuat penyesalanku makin menjadi-jadi, dia juga mengucapkan selamat tinggal pada komunitas blognya karena dia telah meninggalkan Indonesia dan semua kenangan didalamnya. Aku menangis dan menginginkannya kembali tapi aku hanya menuliskan semoga sukses, bodoh!! Tidak lama setelah itu Dimas benar-benar menghilang, tidak ada lagi jejak blognya dan setelah itu yang aku lakukan hanya searching di google tentang keberadaannya namun yang kutemukan hanyalah artikel-artikelnya di blog yang sudah tidak bisa lagi dikunjungi.


No comments: